Kasus Dugaan Penipuan dan Penggelapan Rp 407 Juta yang Menimpa Oma Lusi Resmi Masuk Ranah Hukum

Tangerang , Gakorpan News – Kasus dugaan penipuan dan penggelapan yang menimpa Lusiana BN Candi Kencana (Oma Lusi), seorang lansia berusia 78 tahun yang juga pengurus Vihara di Taman Cibodas, resmi masuk ranah hukum. Pada Kamis (6/3/2025),
Oma Lusi, didampingi tim kuasa hukumnya, Agus Darma Wijaya, melaporkan pasangan suami istri (pasutri) Iwan Ishak dan Evie ke Polres Kota Tangerang dengan Nomor Laporan Polisi (LP): LP/B/317/III/2025/SPKT/POLRES METRO TANGERANG KOTA/POLDA METRO JAYA.
Laporan tersebut berkaitan dengan dugaan penipuan dan penggelapan uang sebesar Rp 407 juta yang dilakukan pasangan tersebut sejak tahun 2024. Dugaan tindak pidana ini mengacu pada Pasal 372 KUHP tentang Penggelapan dan Pasal 378 KUHP tentang Penipuan.
Oma Lusi dan tim kuasa hukumnya berharap aparat kepolisian segera menindaklanjuti laporan ini secara profesional dan transparan demi tegaknya keadilan.
Kronologi Kejadian: Bujuk Rayu Berujung Kerugian Besar
Kasus ini bermula pada Maret 2024, ketika Iwan Ishak dan Evie menemui Oma Lusi di Vihara Taman Cibodas, Tangerang. Mereka mengaku mengalami kesulitan finansial dan membutuhkan dana sebesar Rp 200 juta sebagai mahar pernikahan anak mereka yang akan digelar di luar negeri.
Mereka meyakinkan Oma Lusi dengan menyerahkan Surat Perjanjian Apartemen Pasar Baru Mansion sebagai jaminan.
Namun, jaminan tersebut tidak memiliki kekuatan hukum karena tidak dibuat melalui notaris. Karena merasa iba dan mengetahui bahwa pasangan ini merupakan pasiennya dalam pengobatan alternatif, Oma Lusi akhirnya menyerahkan uang yang diminta.
Namun, setelah mendapatkan uang pertama, pasangan tersebut terus meminta tambahan dana hingga totalnya mencapai Rp 407 juta.
“Awalnya mereka bilang hanya butuh Rp 200 juta untuk mahar, tetapi setelah itu mereka terus meminta uang dengan berbagai alasan. Saya percaya karena mereka berjanji akan memberikan apartemen jika tidak bisa mengembalikan.
Tapi setelah pernikahan selesai, mereka malah sulit dihubungi dan tidak ada itikad baik untuk mengembalikan uang saya,” ungkap Oma Lusi kepada awak media di halaman Polres Kota Tangerang, Kamis (6/3/2025).
Saat mencoba menagih, Oma Lusi justru mendapatkan berbagai alasan hingga akhirnya pasangan tersebut memutus komunikasi dan menghilang. Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa ia telah menjadi korban penipuan.
Tantangan dari Oknum Pengacara: Dugaan Intervensi Hukum
Selain dugaan penipuan dan penggelapan, Oma Lusi dan tim kuasa hukumnya juga menghadapi tantangan dari seorang oknum pengacara berinisial “Yi”, yang diduga merupakan kuasa hukum pasangan Iwan Ishak dan Evie.
Dalam rekaman komunikasi yang dimiliki tim kuasa hukum, Yi diduga menyatakan bahwa laporan yang diajukan oleh Oma Lusi tidak akan bisa diproses.
“Abang silakan LP, saya garansi tidak akan bisa. Kalau abang bisa, saya yang kasih duit sekarang,” ujar Yi dalam rekaman tersebut.
Harapan Korban dan Tim Kuasa Hukum
Setelah resmi melaporkan kasus ini ke Polres Kota Tangerang, Agus Darma Wijaya selaku kuasa hukum Oma Lusi menegaskan bahwa pihaknya akan mengawal proses hukum ini hingga tuntas. Ia meminta aparat kepolisian untuk bekerja secara profesional dan transparan, tanpa adanya intervensi dari pihak mana pun.
“Tidak ada satu pun orang yang kebal hukum di negara ini. Jika ada pihak yang mencoba menggertak korban dengan mengatakan bahwa laporan ini tidak akan bisa diproses, itu harus diusut. Justru pernyataan tersebut semakin menguatkan dugaan adanya upaya melindungi pelaku. Kami akan mengawal kasus ini sampai pelaku benar-benar dijadikan tersangka,” tegas Agus Darma Wijaya.
Selain menempuh jalur pidana, pihaknya juga berencana menggugat secara perdata untuk menuntut pengembalian uang Rp 407 juta yang telah diberikan korban kepada pasangan suami istri tersebut.
“Kami ingin ada keadilan. Bukan hanya agar Oma Lusi mendapatkan kembali haknya, tetapi juga agar tidak ada lagi korban lain yang mengalami hal serupa. Banyak lansia yang mungkin juga menjadi korban modus serupa, tetapi takut melapor karena diintimidasi,” tambahnya.
Sementara itu, Oma Lusi berharap laporan yang sudah dibuat di kepolisian bisa segera ditindaklanjuti.
“Saya hanya ingin uang saya kembali. Saya sudah tua, saya bekerja keras selama ini, ada uang kuliah anak saya malah kena tipu, dan saat ini saya sangat butuh karena salah satu putri saya sedang dirawat pasca operasi kanker ganas di kepalanya. Saya berharap keadilan ditegakkan, dan saya ingin kasus ini benar-benar diproses. Jangan sampai ada lagi orang lain yang mengalami hal seperti saya,” ujar Oma Lusi dengan mata berkaca-kaca.
Pentingnya Pengawasan Publik dalam Kasus Penipuan
Kasus ini mendapat perhatian luas dari masyarakat, terutama karena menyangkut seorang lansia yang telah mengabdikan dirinya untuk membantu banyak orang. Banyak pihak menilai bahwa penegakan hukum yang tegas dalam kasus ini dapat menjadi preseden penting untuk melindungi korban-korban penipuan lainnya, terutama lansia yang rentan menjadi sasaran pelaku kejahatan.
Sejumlah lembaga media, aktivis hukum, dan masyarakat sipil turut mendukung perjuangan Oma Lusi. Mereka menilai bahwa kasus ini harus dikawal agar proses hukum tidak mandek di tengah jalan.
“Kami mengajak masyarakat untuk ikut mengawasi kasus ini. Jangan sampai ada intervensi dari pihak yang ingin menghambat keadilan. Penegak hukum harus bekerja profesional tanpa pandang bulu,” ujar Cecep, Ketua Lembaga Media Kota Tangerang sekaligus aktivis pemerhati hukum yang turut hadir di Polres Kota Tangerang.
Kasus ini akan menjadi ujian bagi sistem hukum di Indonesia, apakah benar-benar mampu melindungi korban atau justru tunduk pada tekanan pihak tertentu. Kini, publik menunggu langkah tegas dari Polres Kota Tangerang untuk memproses laporan ini hingga ke tahap penetapan tersangka dan proses pengadilan.
Dengan adanya laporan resmi yang telah dibuka, harapan besar kini bertumpu pada aparat kepolisian untuk menegakkan keadilan bagi Oma Lusi dan korban-korban penipuan lainnya.
Report patar jono