Laka- lantas yang Diduga Bandar Sabu, Polisi Larang Wartawan Meliput di TKP, Ada Apa?

RIAU,GAKORPAN NEWS – Sebuah peristiwa berawal dari Lakalantas antara mobil Box L300 nopol BM 94xxTQ dan Mobil HRV nopol BM 14xx FR yang terjadi di Jalan Soekarno-Hatta/Simpang Jalan Handayani, Kamis, 30 Mei 2024 sekitar pukul 14.20 WIB, menimbulkan polemik.

Menurut saksi mata di Tempat Kejadian Perkara (TKP), Mobil HRV nopol BM 14xx FR mundur dengan kecepatan tinggi menuju Jalan Soekarno-Hatta sehingga mengakibatkan bagian belakang ditabrak oleh mobil Box L300 yang lagi melaju ke arah Timur dari Utara (dari arah Pasar Pagi Arengka), sehingga mengakibatkan kerusakan dua mobil tersebut.

Anehnya, seorang penumpang mobil HRV nopol BM 14xx FR keluar dan lari ke arah seberang Jalan Handayani, yaitu Jln. Muhajirin. Menurud pengakuan orang sekitar TKP.

“Ya, kami acuh-acuh saja alias cuek gitulah lihat orang kabur itu! kan mobilnya masih ditinggal tu,” ucap A saksi mata yang namanya tidak mau dipublikasikan.

Setelah itu, tiba-tiba datang 5 atau 6 orang yang mengaku Polisi dari Polda Riau yang tadinya sedang memburu penumpang mobil HRV BM 14xxFR yang sudah kabur.

Dan masih keterangan Warga setempat sesuai panca inderanya, bahwa ada oknum Polisi diantara mereka itu menyebutkan sdang mencari barang bukti narkotika jenis sabu-sabu yang diduga berada dalam mobil HRV tersebut.

Kemudian Rahmat Pangabean, ia seorang jurnalis, dalam menjalankan tugasnya, rupanya diam-diam telah berangsur mengumpulkan Informasi yang akurat dan berimbang di sekitar TKP. Ia melakukan riset menggunakan kamera telpon genggamnya, wawancara orang-orang sekitar TKP, observasi dan pencarian data untuk mendapatkan fakta-fakta yang diperlukan dalam melaporkan suatu berita yang dinilai janggal itu.

Namun, dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang jurnalis, ia (Rahmat) diminta polisi untuk tidak mengambil gambar apapun di sekitar TKP Lakalantas tersebut oleh oknum yang mengaku sebagai Polisi. Bahkan! kata Rahmat Pangabean seorang oknum Polisi mencoba menggertak nya dengan meminta Rahmat untuk jadi saksi pada peristiwa tersebut.

“Ya, saya tidak menolak lah, selagi kesaksian saya itu untuk kepentingan publik atau orang banyak,” ucap Rahmat Pangabean yang mengaku akan memviralkan Vidio Oknum Polisi yang meghalangi halangi tugas Jurnalisnya.

“Polisi Sedang Jalankan Tugasnya dan Saya Jurnalis lagi menjalankan tugas Jurnalistik juga, he, he he! sama tugas dong,” celoteh Rahmat Pangabean kepada Awak Media ini.

ketika Rahmad Panggabean mengkorfimasi kepada petugas polda Riau bidang Badan Narkotika Nasional Riau, ia tidak mendapat jawaban bahkan merasa disepelekan,” tandasnya.

Dikutip dari berbagai sumber, bahwa kebebasan Pers sangat penting dalam negara Demokrasi,”termasuk di Indonesia. Dengan kebebasan Pers,” masyarakat dapat mendapatkan informasi yang akurat dan berimbang, serta dapat memperoleh akses ke berbagai sudut pandang dan opini yang beragam.
Dalam praktiknya,” wartawan di Indonesia sering mengalami kendala dalam melaksanakan tugas jurnalistik terkait pengambilan gambar atau merekam suara.

“Beberapa kendala yang sering terjadi adalah penolakan atau ancaman dari pihak yang bersangkutan, kekerasan atau intimidasi dari aparat keamanan atau oknum tertentu, dan bahkan adanya penganiayaan atau penangkapan oleh aparat keamanan.

“Penting untuk dicatat bahwa wartawan yang melaksanakan tugas jurnalistik memiliki tanggung jawab besar untuk memberikan informasi yang akurat dan objektif kepada publik.

“Oleh karena itu,” dalam hal pengambilan gambar atau merekam suara, wartawan harus mempertimbangkan baik etika jurnalistik maupun hukum privasi, serta memastikan bahwa aktivitas mereka dilakukan dengan integritas dan profesionalisme.

“Kebebasan Pers harus dijaga dan diperjuangkan oleh semua pihak, termasuk wartawan, masyarakat, dan pemerintah. (Red)

Rekomendasi Berita

Back to top button